Sambungan terputus. Luhan memandang nanar ponselnya. Matanya memanas dan sudah berair. Tak terasa matanya itu sudah mengalirkan setetes krystal bening.
Kalimat terakhir yang Taeyeon ucapkan benar-benar menyayat hati. Ia menyesal. Sangat menyesal. Tapi apa yang bisa ia lakukan sekarang?
Nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terlambat. Luhan menundukkan kepalanya. Menangisi tragisnya kisah persahabatannya bersama Taeyeon.
.
.
.
Beberapa hari kemudian…
“kau selalu melamun. Ada apa Lu?” tanya paman Jung. Luhan menghela nafas. “gwenchana” jawabnya.
“haishh.. terserah kau saja. Mendiang ayahmu tak akan suka jika kau mengurusi perusahaannya dengan malas-malasan” ucap paman Jung.
“bisakah paman tidak menceramahiku sehari saja? Aku benar-benar tertekan bulan ini” keluh Luhan memijat pelipisnya.
Paman Jung menghela nafas. “aku tidak akan menceramahimu jika kau tak terus-menerus bersifat seperti ini. Mengerti?” ucap paman Jung lalu berlalu dari hadapan Luhan.
“aku mengerti” ucap Luhan pelan saat mendengar suara tutupan pintu. Ia menghela nafas. Sepertinya menghela nafas menjadi hobby nya bulan ini.
Ia memandang foto ayahnya yang terpampang di sudut ruangan. Luhan menatap foto mendiang ayahnya itu dengan pandangan sedih.
“annyeong appa. Appa aku lelah. bisakah kau kembali dan membantuku menjalani hidup rumit ini? Aku telah kehilangan Taeyeon appa. Maafkan aku” ucap Luhan menunduk.